
Etika Makan di Restoran Jepang: Pantangan Sumpit dan Cara Mengunyah Sushi
Hindari menjadi turis tak berbudaya yang dikerutkan dahi. Pelajari cara komprehensif memegang sumpit menurut norma sopan santun Jepang.
Tim Editorial
Waktu baca: 6 menit
Di samping kenikmatan lidah yang didapat saat singgah di bermacam rumah makan otentik, memendam etika dasar tata krama bersantap ala negeri budaya luhur ini bakal menyerap apresiasi mendalam dari sang peracik hidangan. Orang Jepang merangkul banyak kaidah tak kasat mata saat merayakan makanan, yang jika ternodai, mengindikasikan tabiat kasar tiada maaf!
1. Larangan Sakral Penggunaan Sumpit
Kunci pertama keselamatan pergaulan berada pada piranti sumpit kayu. Diharamkan hukumnya untuk menusukkan batang sumpit secara vertikal tegak lurus pada semangkuk penuh nasi putih. Bagi penduduk asli beraksen budaya membumi, sumpit yang menjulang laksana garpu meniru prosesi dupa ritual peribadatan kaum upacara kematian! Pun sangat dikutuk estafet menyuapkan seiris hidangan bergantian antar batang sumpit. Taruh sumpit secara merata di atas bantalan mangkok atau tempat sumpit jika tak dipakai.
2. Prosedur Mutlak Makan Sushi Mentah
Terlepas dari dominansi tangan koki sushi mencetak gurita mentah, etiket elit membisikkan bahwa makan memakai tangan kosong dinilai sangat beradab bagi hidangan gulung tersebut. Celupkan lembaran ikan tipis (bukan bagian pantat gundukan menara nasinya!) kepada segelintir cairan genangan kecap shoyu. Menenggelamkan wasabi hijau diaduk mencicip shoyu bagai racik bubur di depan wajah Chef koki, sangat melampaui batas seni kesopanan.
3. Simfoni Menyeruput Semangkuk Menara Ramen Panas
Ini anomali yang luar biasa nyentrik dibandingkan standar ala kebaratan yang serba tenang dan lambat tak bersuara pelan. Tatkala melahap persembahan Ramen basah hangat di bibir, Anda disarankan untuk menderu lantang menyedot helai-helainya bagaikan ruang hampa udara pecah! Tradisi menyeruput suara mi keras diinterpretasikan koki kedai sebagai deklarasi kemeriahan dan pujian mutlak mengenai hidangan ciptaannya yang lezat tuntas.
Sebagai bonus tambahan keanggunan, Anda tak dibebani untuk menyisakan sekeping koin tip maupun uang seratus yen pada meja makan di sudut lorong rumah makan. Memaksakan pengelola memberikan uang lembur pelayan malah diterjemahkan rupa pelecehan martabat pengabdi industri kebanggan mereka!
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-temanmu!


